LIPOSONLINE.COM – Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada kuartal II 2026 masih dalam kondisi aman. Bank Indonesia mencatat posisi ULN nasional mencapai USD453,4 miliar atau tumbuh 4,4% secara tahunan (yoy).
Rilis resmi BI pada Rabu, 19 Agustus 2026 menyebut kenaikan ini ditopang oleh meningkatnya pinjaman sektor publik, di saat utang luar negeri swasta masih mengalami kontraksi namun pelemahannya mulai berkurang.
ULN Pemerintah Tumbuh Melambat, Kepercayaan Investor Tetap Kuat
Pada triwulan II 2026, ULN pemerintah tercatat USD216,3 miliar. Pertumbuhannya melandai menjadi 2,9% yoy dibanding 3,8% yoy di triwulan I 2026.
Baca Juga :Legacy Core Banking: Understanding Old Banking Systems
Peningkatan ini dipicu masuknya aliran dana asing ke Surat Berharga Negara SBN. Hal tersebut menunjukkan investor masih percaya terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Pemerintah menegaskan komitmen menjaga kredibilitas dengan membayar pokok dan bunga tepat waktu. Pengelolaan utang juga dilakukan hati-hati, terukur, dan fleksibel agar pembiayaan negara efisien.
ULN pemerintah digunakan untuk membiayai sektor prioritas dalam APBN. Penyalurannya difokuskan pada kesehatan dan kegiatan sosial 22,0%, administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial 20,6%, pendidikan 16,2%, konstruksi 11,5%, serta transportasi dan pergudangan 8,5%.
Baca Juga :KPK Usut Keterlibatan Bupati PALI Asgianto dalam Skandal Suap Opini WTP BPK
Hampir seluruh utang pemerintah berjangka panjang, sehingga risikonya tetap terkendali.
ULN Bank Sentral Naik Didorong SRBI
Kenaikan ULN bank sentral dipengaruhi oleh bertambahnya kepemilikan investor asing pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia SRBI.
Instrumen ini menjadi bagian dari operasi moneter pro-market BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian global.
ULN swasta tercatat USD194,6 miliar pada triwulan II 2026. Kontraksinya menyempit menjadi 0,6% yoy dari sebelumnya 1,3% yoy di triwulan I 2026.
Pelemahan utama berasal dari lembaga keuangan yang mengalami kontraksi 3,4% yoy, lebih baik dari 6,3% yoy pada triwulan sebelumnya.
Empat sektor dominan penyumbang ULN swasta adalah industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian.
Keempatnya menyumbang 79,4% dari total utang swasta.Sekitar 75,7% ULN swasta juga berjangka panjang, sehingga struktur pembiayaannya relatif aman.
Rasio ULN Terhadap PDB 30,6%, Struktur Tetap Sehat
BI menilai struktur ULN Indonesia masih sehat. Untuk rasio ULN terhadap PDB berada pada level 30,6%, sementara porsi utang jangka panjang mencapai 82,1% dari total ULN.
Baca Juga :Core Banking Architecture
Ke depan, BI dan Pemerintah akan terus memperkuat koordinasi untuk memantau perkembangan ULN.
Pemanfaatan utang luar negeri akan dioptimalkan guna mendukung pembiayaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, dengan tetap meminimalkan risiko.
Data lengkap ULN triwulan II 2026 dapat dilihat pada publikasi Statistik Utang Luar Negeri Indonesia SULNI edisi Agustus 2026 di situs resmi Bank Indonesia.







