LIPOSONLINE.COM – Pemerintah resmi meluncurkan Biosolar B50 mulai Selasa, 14 Juli 2026 sebagai bahan bakar diesel terbaru di Indonesia.
Kebijakan ini jadi langkah strategis untuk menekan impor BBM, memperkuat ketahanan energi nasional, dan meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan berbasis minyak sawit dalam negeri.
B50 adalah solar campuran dengan komposisi 50 persen biodiesel berbasis Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dan 50 persen solar fosil.
Kadar ini naik dari program sebelumnya B40 yang hanya mengandung 40 persen biodiesel.
Tujuan Peluncuran Biosolar B50: Hemat Impor dan Serap CPO
Dengan meningkatnya kadar biodiesel, pemerintah menargetkan 3 hal utama. Pertama menekan konsumsi solar impor sehingga beban APBN lebih ringan. Lalu memperkuat ketahanan energi nasional melalui bauran energi terbarukan. Serta meningkatkan penyerapan CPO dalam negeri untuk mendukung harga dan industri sawit rakyat.
Selain itu, penggunaan B50 juga diyakini dapat menurunkan emisi gas buang kendaraan diesel sehingga lebih ramah lingkungan dibanding solar murni berbahan bakar fosil. Aman untuk Mesin?
Ini Hasil Uji dan Catatan Penting
Pemerintah bersama sejumlah produsen kendaraan telah melakukan uji jalan. Hasilnya, penggunaan B50 dinyatakan aman untuk kendaraan diesel yang memang sudah dirancang sesuai spesifikasi pabrikan untuk biodiesel.
Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pemilik kendaraan:
– Perawatan Filter Lebih Rutin
Kandungan biodiesel 50% berpotensi membuat filter solar lebih cepat kotor.
Hal ini rawan terjadi pada kendaraan diesel tua atau yang jarang diservis.
– Penyimpanan Harus Baik
Biodiesel sensitif terhadap penyimpanan. Jika B50 disimpan terlalu lama di tangki, risiko munculnya endapan lebih tinggi. Jangan biarkan kendaraan terlalu lama tidak digunakan.






