Densus 88 dan YPP Bahas Pemulihan Anak Terdampak Ekstremisme di Palembang

oleh -10 Dilihat
YPP dan Densus 88 gelar FGD di Palembang. Bahas mekanisme pemulihan dan resiliensi anak korban jaringan kekerasan ekstremisme berbasis hak anak.

LIPOSONLINE.COM – Pemulihan dan resiliensi anak yang terdampak jaringan kekerasan ekstremisme menjadi fokus Focus Group Discussion bertajuk “Membangun Mekanisme Pemulihan dan Resiliensi Anak Korban Jaringan Kekerasan Ekstremisme” di Palembang, Kamis 3 September 2026.

FGD digelar Yayasan Prasasti Perdamaian bersama Direktorat Idensos Densus 88 Anti Teror Polri, Satgaswil Sumsel, Pemprov Sumatera Selatan, dan Kesbangpol Sumsel.

Kegiatan ini melibatkan perangkat daerah provinsi hingga sembilan kabupaten/kota.

Pendekatan Terpadu, Bukan Sekadar Hapus Konten

Hadir Direktur Idensos Densus 88 sekaligus Deputi Deradikalisasi BNPT Irjen Pol. Arif Makhfudiharto. Ia menegaskan kerentanan anak terhadap ekstremisme bukan hanya soal perilaku individu.

Baca Juga :Polrestabes Palembang Musnahkan Sabu 1,5 Kg dan Ekstasi Hasil 49 Kasus Narkoba

Faktornya mencakup ketidakamanan, keterasingan, perundungan, trauma, marginalisasi, hingga kebutuhan akan penerimaan.

“Keberhasilan tidak diukur dari berapa konten ekstremisme yang dihapus. Tapi dari kemampuan ekosistem melakukan deteksi dini, perlindungan, pemulihan psikososial, dan mencegah anak terpapar,” ujar Arif.

Ia mendorong kolaborasi pemerintah, sekolah, keluarga, psikolog, dan komunitas.

Penguatan juga dilakukan lewat empat ekosistem pendidikan sekolah, keluarga, lingkungan sosial, dan media.

Upaya ini sejalan dengan Perpres Nomor 8 Tahun 2026 tentang RAN PE 2026–2029 yang menekankan pencegahan dan koordinasi lintas sektor.

Baca Juga :Mantan Admin Perumahan di Lubuk Linggau Ditahan, Gelapkan DP Rp155 Juta dan Palsukan SHM 3 Rumah

Di Sumsel, hasil FGD diharapkan jadi masukan penyusunan RAD PE.Anak Harus Jadi Pusat PemulihanDirektur Eksekutif YPP Khariroh Maknunah menekankan kepentingan terbaik anak harus jadi pijakan utama.

“Anak tidak boleh hanya jadi objek program. Anak harus jadi pusat mekanisme pemulihan yang kita bangun,” tegas Maknunah.

Menurutnya, pemulihan bukan sekadar menjauhkan anak dari jaringan atau mengubah cara berpikir.

Ini proses jangka panjang meliputi rasa aman, relasi keluarga, pendidikan, kesehatan fisik-mental, penerimaan sosial, dan kepercayaan diri.

Baca Juga :Oknum Pegawai Bank BUMN di Lubuk Linggau Jadi Tersangka, Gelapkan Dana Nasabah Rp2,14 Miliar

“Resiliensi bukan tuntutan agar anak kuat sendirian. Resiliensi dibangun lingkungan yang memberi aman, dukungan, dan hubungan sehat,” lanjutnya.

Hasilkan Rekomendasi Konkret untuk Daerah

FGD ini diarahkan menghasilkan rekomendasi konkret seperti penguatan kapasitas, mekanisme rujukan, instrumen asesmen, dan koordinasi antarlembaga.

Bagi YPP, penguatan mekanisme juga untuk memutus siklus kekerasan.

Baca Juga :DevOps in Banking: How Banks Build Digital Software

“Perdamaian berarti memastikan anak yang tumbuh dari kekerasan tidak mewarisinya. Kita sedang membangun generasi yang lebih resilien,” ujar Maknunah.

Kolaborasi YPP, Densus 88, Satgaswil Sumsel, dan Pemda diharapkan memperkuat mekanisme pemulihan berbasis hak anak, berbasis bukti, terintegrasi, dan berkelanjutan.

No More Posts Available.

No more pages to load.