4. Akselerasi Digitalisasi Sistem Pembayaran
Sejalan Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia BSPI 2030, BI mendorong implementasi Kartu Kredit Indonesia KKI yang diluncurkan 17 Agustus 2026.
BI juga memperkuat kesiapan industri menyambut MDR QRIS 0% untuk transaksi sampai Rp100.000 yang berlaku 1 Oktober 2026.
Baca Juga :Resmi! PPPK Paruh Waktu Diangkat Penuh Waktu 2027, Guru PPPK Bisa Jadi PNS
Selain itu, Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia FEKDI & IFSE 2026 akan digelar 24-26 September 2026 bersama Kemenko Perekonomian, OJK, dan industri.
5. Sinergi dengan Pemerintah dan KSSK
BI memperkuat koordinasi dengan Pemerintah, Komite Stabilitas Sistem Keuangan KSSK, dan pemangku kepentingan lain untuk menjaga stabilitas dan menopang pertumbuhan.
Prospek Global Masih Penuh Tekanan
BI menilai perekonomian global 2026 masih lemah dengan pertumbuhan diprakirakan sekitar 3,0%. Inflasi global masih tinggi di kisaran 4,5% sehingga kebijakan moneter ketat berlanjut.
The Fed diprakirakan menaikkan FFR pada triwulan IV 2026. Imbal hasil US Treasury juga naik akibat ekspektasi kenaikan suku bunga dan defisit anggaran AS.
Ketidakpastian ini menahan arus investasi ke negara berkembang dan membuat indeks dolar DXY dan ADXY tetap kuat. Karena itu, BI menekankan pentingnya sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga ketahanan eksternal Indonesia.
Baca Juga :Digital Payment Systems: How Modern Payments Are Changing the Financial World
Di dalam negeri, pertumbuhan ekonomi masih terjaga. Triwulan II 2026 ekonomi tumbuh 5,29% yoy, setelah sebelumnya tumbuh 5,61% yoy. Pertumbuhan ditopang stimulus fiskal, konsumsi pemerintah, dan investasi.
Belanja pegawai termasuk gaji ke-13 dan program Makan Bergizi Gratis MBG menjadi penopang utama.
Konsumsi rumah tangga masih baik, ekspor perlu terus didorong. Ke depan, BI memprakirakan pertumbuhan 2026 berada di kisaran 4,9% – 5,7%.





