Prakiraan BMKG 26 September – 2 Oktober 2026 Potensi Cumulonimbus OCNL 50-75 Persen di 17 Provinsi

oleh -13 Dilihat
BMKG ingatkan potensi awan Cumulonimbus CB 26 September-2 Oktober 2026 kategori OCNL 50-75 persen di 17 provinsi termasuk Sumsel Jabar DKI dan FRQ 75 persen di Samudra Hindia barat Mentawai Nias Sumbar waspada penerbangan.

LIPOSONLINE.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan adanya potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (CB) di sejumlah wilayah udara Indonesia pada periode 26 September hingga 2 Oktober 2026.

Informasi tersebut merupakan bagian dari prakiraan cuaca penerbangan BMKG.

Awan Cumulonimbus dapat berkembang menjadi awan konvektif dengan kondisi cuaca signifikan bagi aktivitas penerbangan.

Dalam prakiraan BMKG, potensi Cumulonimbus kategori OCNL atau occasional dengan cakupan spasial sekitar 50-75 persen diprediksi terdapat di sejumlah wilayah.

Baca Juga :Geger! Ibu di Ogan Ilir Diduga Sayat Leher Bayi 11 Hari Akibat Halusinasi

Seperti dirangkum Sabtu 26 September 2026, daerah tersebut antara lain Aceh, Banten, Bengkulu, DKI Jakarta, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara,

Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Sulawesi Barat, Papua dan sejumlah wilayah perairan Indonesia.

Potensi serupa juga terpantau di Laut Natuna Utara, Selat Karimata bagian utara, Selat Malaka bagian tengah dan utara, serta beberapa wilayah Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.

Sementara kategori FRQ atau frequent dengan cakupan spasial lebih dari 75 persen, diprediksi terjadi di wilayah Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai, Samudra Hindia barat Kepulauan Nias dan Sumatera Barat.

Baca Juga :Niat Mencegah Berakhir Duka, Petani di Musi Rawas Akhiri Hidup Dalam Kamar

Apa Itu Awan Cumulonimbus?

Cumulonimbus merupakan jenis awan yang tumbuh secara vertikal dan berkaitan dengan aktivitas konvektif.
Pertumbuhan awan ini dapat berlangsung cepat ketika kondisi atmosfer mendukung.

Bagi dunia penerbangan, keberadaan awan CB menjadi perhatian karena dapat berkaitan dengan hujan deras, petir, turbulensi, angin kencang serta kondisi atmosfer tidak stabil.

Karena itu, potensi Cumulonimbus tidak berarti setiap penerbangan akan mengalami gangguan.

Baca Juga :Jembatan Perintis Garuda Merah Putih Musi Rawas Patah Dilintas Tronton 36 Ton, Padahal Baru Diserahkan 12 Agustus 2026

Informasi tersebut merupakan prakiraan kemungkinan pertumbuhan awan di wilayah udara tertentu sehingga operator penerbangan dan awak pesawat dapat melakukan mitigasi sesuai kondisi aktual.

Apa Dampaknya bagi Penerbangan?

Kemunculan awan CB dapat membuat penerbangan perlu menyesuaikan rute atau ketinggian berdasarkan cuaca terpantau.

Dalam situasi tertentu, pesawat dapat menghindari area awan konvektif yang dianggap berisiko.

Baca Juga :Jembatan Perintis Garuda Merah Putih Musi Rawas Patah Dilintas Tronton 36 Ton, Padahal Baru Diserahkan 12 Agustus 2026

Dampaknya bagi penumpang dapat berupa perubahan jalur penerbangan, waktu tempuh sedikit lebih panjang, keterlambatan keberangkatan maupun penyesuaian proses lepas landas dan pendaratan.

Namun potensi CB bukan berarti penerbangan otomatis dibatalkan. Keputusan operasional tetap mempertimbangkan perkembangan cuaca real time, kondisi bandara, rute penerbangan, keselamatan dan informasi meteorologi penerbangan.

BMKG menjelaskan produk potensi pertumbuhan Cumulonimbus merupakan prakiraan cuaca penerbangan untuk melihat sebaran pertumbuhan awan CB di wilayah Indonesia hingga tujuh hari ke depan.

Kategorinya dibedakan berdasarkan cakupan spasial, mulai dari isolated, occasional hingga frequent.

Baca Juga :Hari Pertama Operasi Sikat I Musi 2026: Polda Sumsel Ringkus Puluhan Pelaku Kejahatan Jalanan dan Premanisme

Selain potensi CB, BMKG juga memprakirakan kondisi cuaca Indonesia akhir September hingga awal Oktober masih bervariasi.

Sebagian wilayah cenderung kering, tetapi dinamika atmosfer regional dan kondisi lokal tetap dapat mendukung pertumbuhan awan hujan serta hujan lebat di sejumlah daerah.

Bagi masyarakat yang akan bepergian menggunakan pesawat, informasi cuaca sebaiknya diperbarui mendekati waktu keberangkatan.

Penumpang juga disarankan memantau informasi dari maskapai dan bandara karena kondisi cuaca dapat berubah cepat.

Dengan demikian, peringatan potensi Cumulonimbus BMKG bukan untuk menimbulkan kekhawatiran penumpang, melainkan menjadi bagian sistem pemantauan cuaca untuk membantu penerbangan melakukan perencanaan dan mitigasi terhadap kondisi atmosfer yang berpotensi mengganggu keselamatan maupun kelancaran perjalanan.

No More Posts Available.

No more pages to load.