Karena Sakit Hati Sejak SMP, Pelaku Akui Bekap Lalu Tenggelamkan Relawan MBG di Bengkulu

oleh -46 Dilihat
Pengakuan RP pelaku pembunuhan relawan MBG Indo Melvi Yunadatia di Bengkulu. Motif dendam sejak SMP, korban dibekap dan ditenggelamkan di Sungai Kampung Bahari.

LIPOSONLINE.COM – Tabir kematian tragis relawan Dapur Makan Bergizi Gratis Padang Serai, Indo Melvi Yunadatia (24), mulai terbuka.

Terduga pelaku RP akhirnya memberikan keterangan lengkap kepada penyidik terkait rangkaian kejadian yang merenggut nyawa korban.

Berdasarkan pengakuan RP, peristiwa ini tidak ada kaitannya dengan perampokan. Ia mengaku telah membekap korban terlebih dahulu sebelum menenggelamkannya di sungai wilayah Kampung Bahari, Bengkulu.

Rangkaian Aksi: Dari Pembekapan ke Penenggelaman

RP menceritakan awal kejadian berlangsung di sekitar sepeda motor milik Indo Melvi. Di lokasi tersebut ia langsung membekap mulut korban.

Baca Juga :How Banks Manage Technology Dependencies

“Saya gendong, tapi sebelumnya saya bekap dulu. Alasan ditenggelamkan karena memang tidak ada cara lain,” tutur RP saat diperiksa.

Setelah dibekap, tubuh korban dibawa dengan cara digendong sejauh kurang lebih 100 meter dari tempat motor ke pinggir sungai.

Di titik itulah korban ditenggelamkan sampai meninggal. Petugas turut menyoroti kondisi motor korban yang didapati tergeletak di tepi jurang.

RP beralasan kendaraan itu jatuh saat proses pembekapan. “Motor memang jatuh di situ waktu itu,” jawabnya.

Baca Juga :Lahan 4,5 Hektare di KTM dan Danau Biru Ogan Ilir Terbakar

Tolak Tudingan Pemerkosaan, Ada Batu di Tubuh Korban

Menyikapi rumor yang beredar, penyidik mengkonfirmasi soal dugaan kekerasan seksual. RP dengan tegas menolak.
“Tidak, saya tidak lakukan. Waktunya singkat, mana sempat. Korban langsung meninggal di tempat,” ujarnya.

Dalam proses evakuasi, warga juga mendapati batu yang menempel pada badan dan baju korban. Dugaan sementara batu dipakai untuk memberatkan agar jasad tenggelam. Namun kebenarannya masih menunggu hasil uji forensik.

Pengakuan paling mengejutkan adalah soal motif. RP menyebut ia menyimpan rasa sakit hati sejak duduk di bangku SMP.

Baca Juga :Tak Tunggu Pemerintah, Warga Kayu Ara Lubuk Linggau Perbaiki Gantung Jembatan Pakai Dana Sendiri

Ia mengaku sering diejek Indo Melvi dengan sebutan “hitam” di hadapan orang banyak. Ejekan itu berulang dan membekas di pikirannya.

Dendam yang dipendam selama bertahun-tahun itu akhirnya memuncak dan mendorongnya melakukan perbuatan keji tersebut.

Peristiwa ini membuat heboh warga Desa Riak Siabun, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Seluma.

Pada Selasa, 15 September 2026 pagi, suasana desa berubah mencekam. Jenazah Indo Melvi dipulangkan dari RS Bhayangkara lalu langsung dimakamkan. Keluarga dan kerabat melepas dengan tangis saat prosesi pemakaman.

Baca Juga :Cekcok di 14 Ulu Berujung Penusukan, Buruh Alami Luka di Tangan

Kepala Desa Riak Siabun Mustan, yang juga kakek korban, menceritakan cucunya adalah pribadi ceria dan tidak bermasalah.

Korban orangnya aktif dan tidak pernah ada masalah dengan siapapun. Setahu dirinya sebelum kejadian tidak ada yang janggal dalam keseharian korban.

Saat ini polisi masih terus mendalami keterangan RP. Fokus penyidikan diarahkan pada motif dendam dan detail kronologi pembekapan hingga penenggelaman untuk melengkapi berkas.

No More Posts Available.

No more pages to load.